Jumat, 27 Januari 2012

This Is For You #part2

Semua terasa begitu cepat, detik menit jam seperti melewati batas wajar kecepatannnya. Wajahmu, ekspresimu, caramu memperlakukan aku selalu terngiang dalam ingatan dan hatiku. Bagaimana mungkin kita kini dipisahkan. Apa aku bisa? Aku terbiasa bersamamu dalam setiap waktu, bahkan rasanya ragamu jiwamu sudah menyatu dalam tubuhku.
Dan benar hal yang paling memilukan ketika kenyataannya kita berbeda sekolah, kita tidak bersama lagi, ini kenyataannya. Aku semakin gelisah semakin takut. Tapi lagi-lagi kamu berkata

Kita pasti bisa ketemu kok, kamu berdoa ya”
“Aku takut kamu hilang…aku takut kita ngga jodoh”
“Makannya berdoa..kalau jodoh ngga akan kemana aku juga udah janji ngga bakal ninggalin kamu, aku setia sama kamu dan aku ngga akan hilang sayang”
“aku takut sayang”
“Ngga ada yang perlu ditakutkan, jangan gelisah aku disini sayang..”

Dan seperti biasanya, kamu tenang. Kamu lebih dewasa. Iyakan?

                Kita memang berbeda sekolah, tapi hanya dalam satu kota. Walaupun begitu aku tetap saja takut, aku tidak terbiasa jauh darimu..tidak terbiasa..

1tahun3bulan, kita masih bersama..tepat di hari ulang tahunku.
Kamu datang ke perayaan ulang tahunku bersama teman-teman, sahabat, orang tua dan anak-anak panti asuhan itu. Kita bersama. Kamu masih lelakiku.
Dua hari setelah itu kamu memberikan surprise bersama teman-temanmu, aku tidak mengerti apa yang akan kamu lakukan saat itu, aku tidak mengerti ternyata kamu menyiapakan kue tart bertuliskan kamu cinta aku, kamu beri aku bunga, kamu beri aku boneka anjing putih besar dan kamu berkata “Ini anjing lagi, biar pas dulu aku juga pernah kasih anjing ke kamu biar beranak pinak”
Leluconmu saat itu benar-benar mampu meluluhkan aku. Surprisemu itu, seakan menghentikan badai dan mendatangkan kesejukan baru. Kamu mampu membuat duniaku berbeda.

                Setelah itu…aku baru merasa sebentar lagi kita masuk sekolah. Kamu dan aku masuk di dunia baru. Masa-masa SMA. Sayangnya tidak akan pernah ada lagi yang mengintip aku di kelasku melalui celah pintu kelas saat guru mengajar, tidak ada lagi yang mencuri-curi kesempatan untuk melihat aku, tidak ada yang rela menunggu aku keluar kelas bimbel, tidak ada lagi keseruan saat kita menghabiskan waktu bersama di sekolah, beretemu di kantin lalu tersipu atau pacaran diam-diam di lorong sekolah, kamu menggodaku dan aku menggodamu. Kini kita akan jarang bertemu, tapi aku masih percaya kata-katamu dulu “Kamu untuk aku dan aku untuk kamu, kita pasti bisa ketemu, semoga kita jodoh”

                Kamu masih sering menjemputku setiap sabtu sepulang sekolah, kamu masih sering mengirim pesan singkat ke dalam handphoneku, menyemangatiku, memberiku perhatian. Mengucapkan selamat tidur setiap malam.
                Kamu juga masih menyempatkan diri untuk menemuiku, atau untuk sekedar menjemputku di sekolahku lalu mengajakku makan atau sekedar jalan bareng.

Lembar ke 16 bulan dalam hubungan kita…

Sudah kukatakan sebelumnya, inilah diriku, yang selalu mencintaimu tanpa ada cela satupun. Sudah kujelaskan, bahwa apapun akan kuserahkan hanya untukmu. Namun….

Namun sekarang.. Yang kumiliki hanya jiwa. Ragaku sudah tak bersamaku lagi. Aku sudah terlalu lelah dengan semua ini. Mungkin, inilah akibat aku terlalu mencintainya. Oh, tunggu… Cinta? Apa yang kutau tentang cinta? Apakah aku benar-benar memilikinya? Apakah selama ini aku sudah terbunuh oleh cinta semu?

Tapi kemudian aku bertanya-tanya, sebenarnya cinta yang indah seperti yang dia bilang itu cinta yang bagaimana ? dan seperti apa ? Kenapa cinta yang kurasakan saat ini terasa begitu berbeda dengan cerita tentang cinta sebelumnya ?
Cintaku ini menyesakkan. Rasanya seperti tidak ada matahari di bulan Juni, dan digantikan oleh tetesan hujan bulan Desember yang terasa turun setiap hari. Dingin dan membekukan. Membuat saraf ini mati rasa.

Lelakiku sudah berubah, dia bukan lelakiku. Tidak ada lagi pesan singkat darinya, tidak ada lagi suapan romantis darinya untuk aku yang manja ini. Bahkan saat dia menjemputku pulang sekolah itu tidak dari hatinya, karena dia sibuk. Ini yang kutakutkan. Dan terjadi sekarang.

Lelakiku kasar, lelakiku bukan yang dulu. Semua terasa berbeda dan tak sehangat dulu, dia bilang aku tidak dewasa, aku berlebihan. Tapi bukankah itu tidak menjadi masalah baginya dulu? Apa aku yang keterlaluan? Kenapa kamu tidak mengatakan ini dulu, jauh sebelum perasaan ini menyatu terlalu dalam. Kenapa baru sekarang kamu berubah? Menjauh dariku tapi kamu berkata ini karena sekolahmu benar-benar tak punya waktu luang. Aku berusaha memahami, memafkanmu bahkan ketika kamu mulai membentakku dengan kasar. Aku hanya berfikir bahwa kamu sedang lelah dan kamu marah demi kebaikanku juga. Aku berusaha tetap mencintaimu.

Tapi kenapa makin lama rasanya begitu menyesakkan, pertama kalinya kamu melupakan tanggal jadianku denganmu, hal yang sangat tidak kusangka bakal kamu lakukan. Aku berpikir kamu lupa karena sibuk pada sekolahmu itu.

Aku mencoba menghubungimu malam itu, tapi kamu seperti tidak suka denganku. Kamu menjawab asal. Tidak ini bukan lelakiku, mungkin dia sedang lelah. Aku menangis malam itu, entah kenapa rasanya seperti ada sebuah duri kecil yang menembus kulit. Membuat perih. Namun sayangnya kau tidak tau di bagian mana duri itu menancap. Lalu membiarkan duri itu tetap di dalam, sakit dan berdarah. Luka yang tak terlihat. Menyakitkan.

When you're gone
The pieces of my heart are missing you
When you're gone
The face I came to know is missing too

When you're gone
The words I need to hear to always get me through
The day and make it ok
I miss you

(Avril Lavigne- When you’re gone)

0 komentar:

Poskan Komentar