Sabtu, 28 Januari 2012

This Is For You #part3

Aku belum menyerah.
Aku masih menunggu lelakiku kembali seperti dulu lagi.
Entah apa yang aku rasa..seakan menyeruakkan kenangan yang dulu. Setahun yang lalu.
Ketika ponselku bergetar.

kau mau aku apa, pasti kan ku beri
kau minta apa, akan ku turuti
walau harus aku terlelap dan letih
ini demi kamu sayang
aku tak akan berhenti
menemani dan menyayangimu
hingga matahari tak terbit lagi
bahkan bila aku mati
ku kan berdoa pada Ilahi
tuk satukan kami di surga nanti

tahukah kamu apa yang ku pinta
di setiap doa sepanjang hariku
Tuhan tolong aku, tolong jaga dia
Tuhan aku sayang dia
Seekor kelinci berlari mencari kekasihnya, dia tersesat karena tak kunjung menemukan kekasihnya. Sayang tlong balas sms ku, aku sayang banget sama kamu sayang..jangan tinggalin aku :’(

Sebuah lirik lagu dengan sedikit tambahan kata-katamu, saat aku sedang marah padamu, saat aku tak membalas sms mu saat kamu mengkhawatirkanku dan saat aku mengenangnya saat ini. Siapa yang tidak tersentuh sayang? Dengan kata-kata seperti itu, sudah pasti aku memaafkanmu. Setahun yang lalu. Ya setahun yang lalu.
Masih saja malam ini aku memikirkan lelakiku kembali. Bias sinar wajahnya seakan memasuki ruang dalam sudut memoriku yang paling dalam.
Ketika pertama kali kamu suka menonton FTV karenaku, ketika aku ingin dibelikan kalung lumba-lumba yang lucu itu lalu kamu tidak menemukan. Kamu tetap menggantinya dengan kalung panah dan cinta. Kamu yang memakaikan untukku? Yang tanda panah? Benar kan? Kalau kamu sudah tidak ingat aku akan berusaha untuk mengingatkannya.
Dan, aku tidak akan melupakan saat kamu memberikan kado valentine terspesial untukkku, coklat yang kamu buat sendiri yang kamu hias sendiri kotaknya dan kamu kemas sedemikian cantik, meluluhkanku. Tidak bisa berkata apa-apa, aku bahagia.
Yang selalu kamu ucap di setiap sms saat hari spesial kita, hari spesialku, hari spesialmu, atau kadang hanya sekedar kamu selipkan dalam pesan singkatmu untukku. Semoga ini selamanya sayang, everlasting ya, semoga kita seperti dua magnet yang ujungnya bila disatukan tidak akan pernah bisa terlepaskan, my angel.
Ketika dulu kamu bangga memamerkan hasil curianmu di fb-ku, ya fotoku. Semua kamu simpan dalam folder handphonemu, kamu sangat marah bila ada yang menghapusnya. Termasuk aku. Itu manis sekali.
Bahkan ketika saat itu, saat kita sudah berbeda sekolah kamu menjemputku lalu mengajakku berteduh saat hujan turun dengan derasnya, di sebuah pertokoan kecil kamu menarikku untuk duduk saat itu, lalu dengan gayamu yang khas itu kamu membisikkan kata sandi hapemu bahwa  itu hari jadian kita. Saat kamu menunjukkan wallpaper handphone kamu yang selalu saja wajahku, begitu saja rasanya kamu sangat bahagia kan. Waktu itu.
Yang aku suka dari jaketmu, yang aku suka dari kamu saat aromamu yang sangat khas selalu menusuk hidung, langsung ke hati. Kau mengerti? Itu salah satu memori yang berusaha kulupakan kini, ketika aku harus menutup hidung saat ada orang yang memakai parfum persis sepertimu, aku tersiksa karena harus mengingatmu kembali.
Kamu selalu tidak pernah mau melukai perasaanku, kamu yang selalu menjaga hatiku, kamu yang mengisi lembar tiap lembar catatan hidupku. Dan kamu, yang selama ini sangat aku cintai.

**********************************************************************************
Hari terakhir di lembar ke 16.

Rasanya sudah jauh berbeda, tetapi tetap sama. Bukan lelakiku yang dulu.
Sudah tidak ada lagi tawa lepasnya, tidak ada lagi senyum manisnya. Bahkan tidak ada sekedar pesan singkat “Selamat pagi” dari lelakiku.
Berusaha memendam rasa sakit ini, aku lebih banyak diam. Tapi kuakui begitu sulit mengontrol emosi hingga kadang persaan ini meluap menjadi satu dan tumpah dalam kemarahan. Tapi ini beda, ini berbeda. Ini adalah kemarahan penuh kesesakkan. Sepertinya telah menjadi onggokkan yang menyumbat tenggorokan dan membuatku begitu sesak.
Aku tidak tahu tetap tidak tahu.
Atau aku begitu naif ? Untuk sekedar mengakui bahkan mengerti apa yang sebenarnya sedang dia lakukan padaku. Apa yang sebenarnya terjadi.
Ini air mataku menetes, saat tidak lagi kamu mengucapkan selamat malam selamat tidur mimpi indah atau bahkan untuk sekedar mengatakan kalimat-kalimat indah padaku setiap malam. Kini yang kurasa hanya sesak sesak dan begitu menyesakkan tiap kali harus berbicara denganmu.
Setiap kali harus mengambil nafas panjang lalu menyimpannnya dalam dada, tidak bisa diungkapkan.
Semua cara sudah kucoba bahkan untuk meyakinkannya bahwa aku sangat mencintainya, Tapi dasar lelakiku keras kepala dia tetap diam, dia bilang dia tidak ingin menyakitiku.

Ingin sekali aku memaki. Meski anehnya tetap tak bisa kulakukan, sekalipun dalam hati.
Apa duri bisa tumbuh dalam hati tanpa akar, kawan?
Aku tetap tidak mengerti.
Atau mungkin dia disana juga merasakan sakit yang sama karenaku?
Lagi-lagi, aku tetap tidak mengerti.
Bahkan untuk sekedar mengatakan apa perasaanku saat ini, aku tetap tidak mengerti.
Lelakiku sibuk dengan dunianya, lelakiku sibuk dengan kehidupan barunya disana. Aku tidak melarang, tidak sayang. Bahkan setiap kali teman-temanmu itu mencibirku aku tetap berusaha tegar. Kamu tentu tidak tahu? Ketika aku terlihat marah, bahkan ketika kamu sudah jengkel sekali kepadaku. Sebenarnya aku memilih untuk tidak mengatakan semuanya. Memang dulu aku bilang kamu berubah, kamu tidak seperti dulu lagi tapi lagi-lagi kamu tetap mengelak. Atau kamu akan mengatakan aku akan berusaha menjadi seperti dulu lagi.
Kamu pernah menangkapi setiap tetes air mataku yang jatuh, menyulapnya, mengeringkannya, dan mengubahnya menjadi tawa.
Tapi..
Kini kamu mengubah tawa itu menjadi tetes air mata, sedikit demi sedikit. Perlahan-lahan.
Dengar ya. Aku tidak pernah menyalahkanmu lelakiku, bahkan untuk membenci perbuatanmu. Tidak sama sekali. Tapi kamu terus berkata “Maaf aku tidak bisa menjadi yang terbaik bagimu, maaf aku selalu menyakitimu.”
Selalu maaf. Sayang, maaf tidak akan pernah merubah segalanya bila kamu tidak berusaha. Bahkan berusaha memperbaiki pondasi yang mulai pupus kini tidak kamu lakukan kan?
Kamu tahu saat dulu kamu memberikan jaketmu kepadaku, kamu mengusap air mataku? Kamu memelukku. Menjagaku dalam setiap detik saat itu. Harusnya kamu mengerti perasaan ini, hanya ingin kamu sedikit kembali seperti dulu sayang….
Cuma karena sepi diartikan mati, dan luka tak boleh ada, maka manusia berpikir sudah menemukan. Entah apa…Padahal aku lelah..Dan aku telah sampai dimana aku menoleh dan menyadari..bahwa aku tak pernah menemukan apa-apa. (Cinta Pertama)

0 komentar:

Poskan Komentar